Akhirdzhoelia's Blog

Just another WordPress.com weblog

Kaya dan Cukup

Apapun keadaan kita maka kita harus merasa KAYA dan CUKUP.

Pernyataan ini baik sekali untuk ditempatkan pada konteks

“bahagia menikmati hidup”. Dan tentu tidak harus kaya material dulu.

Nah sekarang pertanyaannya bagaiman kita bisa ” bahagia menikmati hidup “

dan sekaligus ” kaya material ” ?.

Untuk masalah “bahagia menikmati hidup”, saya pernah membaca sebuah artikel,

caranya dengan menghindari lima hal yang sering menyebabkan kita tak

bahagia menikmati hidup :

Pertama,

Adanya keyakinan bahwa Anda tidak akan bahagia tanpa memiliki hal-hal yang

Anda anggap bernilai. Anda sudah memiliki pekerjaan tetap dan tingkat kehidupan yang lumayan, tapi Anda masih merasa kurang.

Anda merasa akan berbahagia bila memiliki uang lebih banyak, rumah lebih

besar, mobil lebih bagus, dan sebagainya.

Pikiran Anda dipenuhi oleh benda-benda yang Anda kira dapat membahagiakan

Anda. Padahal, Anda tidak bahagia karena lebih memusatkan perhatian pada

segala sesuatu yang tidak Anda miliki, dan bukannya pada apa yang Anda

miliki sekarang.

Kedua,

Anda percaya bahwa kebahagiaan akan datang bila Anda berhasil mengubah

situasi dan orang-orang di sekitar Anda. Anda tak bahagia karena pasangan,

anak, dan tetangga.

Kepercayaan ini salah. Anda perlu menyadari bahwa amat sulit mengubah orang

lain. Bukannya berarti Anda harus menyerah, silakan terus berusaha mengubah

orang lain. Namun, jangan tempatkan kebahagiaan Anda di sana. Jangan

biarkan lingkungan dan orang-orang di sekitar Anda membuat Anda tak bahagia. Kalau Anda tak dapat mengubah mereka, yang perlu Anda ubah adalah diri Anda

sendiri, paradigma Anda.

Ketiga,

Keyakinan bahwa Anda akan bahagia kalau semua keinginan Anda terpenuhi.

Padahal, keinginan itulah yang membuat kita tegang, frustrasi, cemas,

gelisah dan takut. Terpenuhinya keinginan Anda paling-paling hanya membawa

kesenangan dan kegembiraan sesaat. Itu tak sama dengan kebahagiaan yang abadi.

Keempat,

Anda tak bahagia karena cenderung membanding-bandingkan diri Anda dengan

orang lain. Bertemu dengan eksekutif yang berkali-kali pindah kerja

hanya karena kawan akrabnya semasa kuliah dulu memperoleh penghasilan lebih

besar dari dirinya. Karena itu, setiap ada tawaran kerja, yang dilihat

adalah apakah ia dapat mengungguli atau paling tidak menyamai penghasilan

kawannya. Ia bahkan tak peduli bila harus berganti karier dan pindah ke

bidang lain. Sampai suatu saat ia menyadari bahwa tak ada gunanya

“mengejar” sahabat karibnya. Sejak itulah ia mencari pekerjaan yang sesuai dengan bakat dan minatnya sendiri. Ia kini bahagia dengan pekerjaannya dan tak pernah ingin tahu lagi penghasilan sahabatnya.

Kelima,

Anda percaya bahwa kebahagiaan ada di masa depan. Anda terlalu terobsesi

pepatah “bersakit-sakit dahulu bersenang-senang kemudian”. Kapan Anda

bahagia? “Nanti, kalau sudah jadi manajer,” kata Anda. Persoalannya, saat

menjadi manajer, Anda tambah sibuk, waktu Anda tambah sempit. “Saya akan

bahagia nanti, kalau sudah menjadi direktur atau dirjen, gubernur, menteri,

presiden.” Nah, daftar tunggu ini masih dapat terus diperpanjang. Namun,

Anda tak juga bahagia. Kalau demikian yang terjadi adalah, “bersakit-sakit

dahulu, bersenang-senang entah kapan.” Kebahagiaan telah Anda letakkan di

tempat yang jauh. Padahal, sebenarnya kebahagiaan berada sangat dekat dan

dapat Anda nikmati dimanapun dan kapanpun, yang pada intinya kita harus mensykuri apa yang ada.

Sumber: Tidak Diketahui)

Advertisement

January 26, 2010 - Posted by | Hidup Ini Indah

No comments yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.